Home » » Hijrah Awal kesukseskan

Hijrah Awal kesukseskan



HIJRAH AWAL KESUKSESAN
Abu al-Hulya

Kata Hijrah berasal dari bahasa Arab “Hijratun” yang berarti pindah, menjauhi atau menghindari, berpaling dan tidak memperdulikan lagi. Dalam hal ini istilah hijrah mempunyai beberapa pengertian; pertama, kaum muslimin meninggalkan negeri asalnya yang berada di bawah kekuasaan pemerintah yang kafir; kedua, menjauhkan diri dari dosa; dan ketiga, adalah permulaan tarikh Islam.
Istilah hijrah juga terdapat dalam al-Qur’an yang mengandung beberapa makna dan pengertian, diantaranya, pertama, meninggalkan atau menjahui sesuatu dengan kebencian. Hal ini sebagaimana firman Allah surat Maryam ayat 46 terdapat kalimat “wahjurni maliyya” (tinggalkan aku untuk waktu yang lama). Dikisahkan dalam ayat ini, bahwa ayah nabi Ibrahim murka terhadap sikap beliau yang telah menyuruhnya untuk meninggalkan berhala-berhala yang telah  diciptakannya, sehingga ia mengusir nabi Ibrahim dengan penuh kebencian.



Kedua, meninggalkan sesuatu karena sesuatu itu kotor atau najis. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat Al-Mudatsir ayat 5 “wa ar-rujza fahjur” yang berarti “dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan segala sesuatu yang kotor atau najis, maksudnya adalah menjauhi kemusyrikan, karena kemusyrikan adalah najis (kotor).
Ketiga, Tidak mengacuhkan sesuatu karena tidak menyukainya atau karena memusuhinya atau membencinya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 30 terdapat kata “mahjuura” yang berarti “tidak diacuhkan”. Dalam ayat ini, Allah memberitakan pengaduan Rasulullah kepadaNya, bahwa kaumnya menghijrahi (tidak mengacuhkan) Al-Qur’an.
Keempat, Meninggalkan negeri kafir, hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 195 terdapat kata “falladziina haajaru wa ukhrijuu min dizyaarihim” yang artinya “maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya”. Dalam ayat ini, Allah menandai terkabulnya do’a Rasulullah SAW sehingga mengizinkan Rasulullah SAW untuk keluar meninggalkan negeri yang kafir.
Kelima, Berpisah secara bathin, hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34 Allah terdapat kalimat “wahjuruu hunna fii-almadhaaji’i” (dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka). Dalam ayat ini, Allah memberi arahan bertahap kepada para suami dalam menghadapi istrinya yang dikhawatirkan “nusyuz” (menyimpang) diawali dengan dinasihati, kemudian pisah ranjang hingga dipukul sekedar mengingatkan.
Keenam, mendapatkan kehidupan yang lebih baik, hal ini se sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 97 Allah terdapat kalimat “Qaaluu alam takun ardhu Allah waasi’ah, fatuhaajiruu fiihaa” (Meraka (para malaikat) bertanya, “bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah) di bumi itu?). Dalam ayat ini Allah memberikan gambaran kepada para hamba-Nya untuk berpindah dalam rangka mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Bulan Dzulhijjah telah berlalu, ini berarti sebagian umat muslim telah menyempurnakan rukun Islam yang kelima dengan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, sebagian yang lain juga telah membuktikan cinta dan pengorbanannya dengan mengalirkan darah hewan kurban, dan sebagian besar yang lain telah menjalankan puasa Arafah sebagai bukti ketundukan dan kepatuhan dalam rangka menjalankan Sunnah Rasulullah SAW. Lantas bersiap menata hati, mengintrospeksi diri untuk mengawali langkah dalam rangka memperbaiki diri, keluarga, masyarakat dan negara menuju kehidupan yang lebih humanis, terarah, dan terprogram demi mewujudkan izzul Islam wal muslimin di tahun yang akan datang.
Inilah bulan Muharram, bulan sarat sejarah, bulan dimana Rasulullah SAW mengawali ekspansi dakwah, menjalankan perintah Allah Ta’ala untuk berhijrah meninggalkan “Makkah Al-Mukarramah” menuju Yatsrib “Madinah Al-Munawwarah” dalam rangka melakukan perbaikan manusia secara menyeluruh “min adh-dhulamâti ila an-nûr” mengadakan ”ishlahul ummah” (perbaikan masyarakat) yang dimulai dengan pembentukan fardhul muslim (pribadi muslim) para sahabat muhajirin yang telah gagah berani melakukan perjalanan panjang meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan materi dunia (harta, keluarga, peniagaan, jabatan, pengaruh dan segala bentuk kesenangan dunia yang lainnya) menuju kota harapan, membentuk usrah muslimah (keluarga muslim) dengan mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshar menjadi sebuah keluarga muslim yang saling menguatkan, saling tarakit dalam sebuah ikatan akidah yang mungkin tidak akan pernah didapati pada generasi sesudahnya. (QS. Al-Anfal [8] : 74-75)
Dari sinilah kemudian Rasulullah SAW membangun mujtama’ muslim (masyarakat muslim) yang saling memahami antara hak dan kewajiban, mengedepankan sikap tenggang rasa, menghormati perbedaan akidah, mengikis ras dan kasta, mengembalikan hak-hak wanita dan anak-anak, cerdas dalam menyikapi masalah dengan mengedepankan musyawarah sehingga terbentuklah sebuah civil society “masyarakat madani” yang beradab, bertanggung jawab, dan berani berkorban untuk kepentingan agama Allah yang lurus.
Inilah sebuah potret para penyeru dakwah yang dibicarakan Al-Qur’an dari semenjak munculnya dakwah sampai hari ini. Para juru dakwah harus rela berhijrah sebab terusir dari kampung halamannya karena mempertahankan akidahnya, yang diganggu dan disakiti di jalan Allah oleh musuh Allah.
Inilah kenyataan yang tidak boleh lari darinya, haruslah dihadapi dengan kelapangan dada, kesabaran dan konsistensi dan tetap berpegang teguh kepada hakekat dakwah "amar ma'ruf dan nahi munkar" menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Inilah manhaj Rabbani, yang ditakdirkan Allah yang akan terealisasi dalam kenyataan hidup melalui perjuangan para penyeru dakwah yang berjuang mencari keridhaan-Nya. Allah SWT berfirman :
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa [4]: 100)
Manhaj Rabbani dalam ayat ini mengobati bermacam-macam hal yang menakutkan jiwa kita, yaitu ketika kita menghadapi resiko hijrah; "memulai serta membangun sesuatu yang baru", diobatinya semua itu dengan menebarkan ketenangan, baik bagi kita yang sampai ke tempat tujuan ataupun yang mati di tengah perjalanan dalam keadaan berhijrah di jalan Allah. Dengan memperoleh kemakmuran di muka bumi dan mati syahid yang sangat dirindukan oleh mereka yang merindukan pertemuan dengan Allah SWT.
Hari ‘Asyura
Dalam bulan Muharram kita sering mendengar istilah ‘Asyura yang berarti hari kesepuluh di bulan Muharram. Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah memerintahkan para pengikutnya untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelahnya dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura merupakan hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, Bani Israil dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya di tengah laut. Dan sudah menjadi kebiasaan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat tersebut.
Maka, setelah Rasulullah SAW menetap di Madinah, ketika beliau menyaksikan bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Kemudian orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Mendengar hal tersebut Rasulullah SAW berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. (HR Bukhari)
Rasulullah SAW berkata demikian sebab beliau dan para pengikutnya adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Hal ini bersandarkan kepada firman Allah yang berarti “Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 68)
Demikianlah puasa di hari ‘Asyura telah menjadi sebuah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilaksanakan oleh para pengikutnya. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abi Qatadah bahwa ketika beliau SAW ditanya tentang hari ‘Asyura, beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW telah berpuasa dihari ‘Asyura, "bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan”. (HR. Muslim)
Demikianlah Rasulullah SAW berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh, atau ketiga-tiganya.
Rasulullah SAW adalah seorang rasul yang terlahir sebagai yatim. Beliau telah mengalami pahit getirnya hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Berjuang mempertahankan hidup di tengah-tengah kerasnya kehidupan. Maka dari itu, Allah menguatkan diri beliau agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah beliau terima. Salah satu dari bentuk kesyukuran beliau adalah dengan mengasihi anak-anak yatim dan menjanjikan tempat yang dekat di surga bagi orang-orang yang mengasuh anak-anak yatim seperti dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, sebagaimana sabda beliau, Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)
Momentum ‘Asyura adalah kesempatan yang sangat berharga bagi umat muslim untuk saling berbagi kepada kaum dhu’afa dan anak-anak yatim yang kekurangan. Minimal hari ini sebagai pemicu amal kebaikan di waktu-waktu mendatang. Sehingga jangan sampai kita melewatkan kesempatan yang berharga ini tanpa sebuah amal kebaikan yang nyata sebagai tanda bukti syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita.
Hidup adalah sebuah perjalanan singkat yang harus dilalui. Suka maupun duka adalah bumbu kehidupan yang akan selalu menyertai, kapan pun dan dimanapun. Tidak ada kehidupan yang berlalu tanpa ada masalah yang bergelayut. Marilah kita bertanya, apakah diri kita telah mampu menepis setiap problematika sehingga keluar sebagai pemenangnya atau justru malah terjerembab ke dalamnya sehingga tiada lagi mampu bangkit daripadanya.
Masih ada waktu yang tersisa. Masih ada harapan-harapan lain yang belum kita kerjakan. Bila tahun lalu telah gagal, tidak salahnya kita kembali mencoba. Bila tahun kemarin telah hancur binasa tidak ada salahnya jika tahun ini, membuka kembali lembaran-lembaran sejarah baru. Momentum Muharram inilah waktu untuk merefleksi diri, dan membangun prestasi.
Ada beberapa tips dalam mengisi bulan Muharram ini sebagai isti’dad sebagai berikut  :
1.    Memperhatikan diri pribadi agar selalu menjadi pribadi yang berkualitas; “shalih” dalam pikirannya, pemahamannya, keyakinannya, ibadahnya dan akhlaknya. Mengaplikasikan makna hijrah bukan sebatas ritual atau perayaan semata akan tetapi lebih kepada perubahan cara berfikir yang positif, sikap dinamis dan perilaku innovative yang bersandarkan kepada tata cara ibadah yang benar berdasarkan tuntunan Allah dan rasul-Nya.
2.    Selalu memperhatikan waktu, umur dan kesempatan. Semua perbuatan tidak dapat dipisahkan dari unsur waktu. Semua ibadah kita, baik yang  mahdhah (wajib) ataupun yang sunnah dan lainnya harus menggiring waktu kepada terciptanya produktivitas amal dan pahala.
3.    Senantiasa menyadari bahwa manusia sebagai makhluk “kolektif”. Setiap kebersamaan harus dapat memberikan sumbangsih “nâfiun lighairihi” sebagai bukti bahwa diri sebaik-baiknya diri diantara makhluk Allah yang lain. Kolektivitas berarti bersatu untuk maju, bahu-membahu membangun peradaban Islam yang sistematis dan terpadu serta berupaya sekuat tenaga mengangkat derajat umat Muslim menjadi umat yang terdepan dalam kuantitas, kualitas dan mutu. Tidak menjadi pribadi yang “gedé ambeg”, “gampang mutung, dan mudah “futhur” atas semua keputusan koligial yang telah disepakati.
4.    Amal sosial pada bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim, atau di beberapa tempat di kenal sebuah istilah sebagai lebaran anak yatim. Namun yang lebh harus kita pahami adalah bulan Muharram hanyalah sebuah pemicu, dalam rangka meledakkan kebaikan dan amal sosial kepada sesama; menyantuni anak yatim, memberi makan orang-orang miskin, menyantuni kaum jompo yang tersia-siakan, dan mengembalikan arah yang telah terlanjur salah langkah. Untuk kemudian ditindaklanjuti dalam kehidupan mendatang.
Selanjutnya, dengan momen bulan Muharram, Tahun Baru Hijriyah tahun ini semoga oleh semua pihak menjadi awal mengawali kesuksesan, khusus-nya bagi para jamaah Haji yang telah menyempurnakan rukun Islam yang kelima semoga menjadi sebuah media pembuktian kemabruran ibadah hajinya.
Akhirnya, bagi seluruh umat Muslim semoga momen tahun baru Islam ini tidak hanya diartikan sebagai berpindah tempat atau dimaknai dengan perayaan atau ritual semata akan tetapi harus dimaknai sebagai berpindahnya perilaku madzmumah (tercela) menuju perilaku karimah (terpuji) yang ditandai oleh tumbuhnya solidaritas social, berkembangnya nilai-nilai silaturahim, mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan, meninggalkan praktek-praktek ribawi dalam urusan muamalah maaliyah berpindah kepada muamalah asy-syariah yang justru oleh negara Barat mulai diadopsi karena lebih humanis dan tidak merugikan salah pihak yang melakukan transaksi keuangan, dan yang paling utama dari semua hal tersebut diatas adalah tumbuhnya semangat untuk memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah Nubuwwah dalam rangka menegakkan Izzul Islam dan Muslimin. Wallahu a'lam bishshawab.

Share this video :
 
Support : Website Islam | # | AL-Hayah
Copyright © 2013. Alhayahvoice - All Rights Reserved
Created by Al Hayah Voice Published by AL-Hayah
Proudly powered by Hermal sb