Merangkai Tali Silaturahim
Islam mengajarkan kita untuk mempererat tali silaturahim
sesama muslim dengan benar. Menerapkan jalinan silaturahim tersebut dalam
keadaan suka maupun duka, dimanapun dan kapanpun.
Silaturahim merupakan ibadah yang mulia, mudah
dan membawa berkah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk melaksanakan
silaturahim, diantaranya dengan berkunjung, memberi hadiah, berlemah lembut, menyampaikan salam, bermuka
manis dan masih banyak lagi cara-cara yang dapat dilaksanakan untuk mewujudkannya
apalagi di era teknologi saat ini.
Silaturahim berasal dari Bahasa Arab, yaitu
dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah adalah bentuk mashdar
dari kata washola-yashilu yang berarti ‘sampai, menyambung’. ar-Raghib
al-Asfahani berkata, “yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang
lain.” (al-Mufradat fi Gharibil Qur-an, hal. 525).
Sedangkan makna Rahim dengan memfathahkan
huruf Ro dan mengkasrahkan Ha, sebagaimana dikatakan al Hafizh Ibnu Hajar
didalam kitabnya “Fathul Bari” digunakan untuk kaum kerabat dan mereka adalah
orang-orang yang diantara sesama mereka memiliki hubungan nasab, baik
mewariskannya atau tidak, baik memiliki hubungan mahram atau tidak. Namun ada
juga yang mengatakan : mereka adalah para mahram saja. Namun pendapat pertama
lah yang tepat karena pendapat kedua mengharuskan dikeluarkannya (tidak
termasuk didalamnya) anak-anak lelaki dari paman baik dari jalur bapak atau ibu
dari kalangan dzawil arham, padahal bukanlah demikian. (Fathul Bari juz XVII
hal 107)
عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ
– رضى الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ
يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ . فَقَالَ الْقَوْمُ مَالَهُ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَرَبٌ مَالَهُ » . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى
الله عليه وسلم – « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ
الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ ، ذَرْهَا » . قَالَ
كَأَنَّهُ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ .
Dari Abu Ayyub Al
Anshari radliallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata; "Wahai Rasulullah,
beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga."
Orang-orang pun berkata; "Ada apa dengan orang ini, ada apa dengan orang
ini." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Biarkanlah urusan orang ini." Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
melanjutkan sabdanya: "Kamu beribadah kepada Allah dan tidak
menyekutukannya, menegakkan shalat, dan membayar zakat serta menjalin tali
silaturrahim." Abu Ayyub berkata; "Ketika itu beliau berada di atas
kendaraannya." (HR. Bukhari)
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « تَعَلَّمُوا مِنْ
أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ
مَحَبَّةٌ فِى الأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِى الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِى الأَثَرِ ». قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. وَمَعْنَى قَوْلِهِ «
مَنْسَأَةٌ فِى الأَثَرِ ». يَعْنِى زِيَادَةً فِى الْعُمُرِ.
Imam Tirmidzi
meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau
bersabda: "Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk
silaturrahim karena silaturrahim itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan
memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur." Abu Isa berkata: Ini
merupakan hadits gharib melalui jalur ini
Berkaitan dengan hal
ini, para ulama hadits memberikan judul pada salah satu babnya didalam
kitab-kitab haditsnya dengan silaturahim, seperti : Imam Bukhori didalam
Shahihnya memberikan judul “Bab Silaturahim”, Muslim didalam Shahihnya dengan
judul “Bab Silaturahim wa Tahrimi Qothiatiha”, Abu Daud didalam Sunannya dengan
“Bab Silaturahim” dan Tirmidzi didalam Sunannya dengan “Bab Maa Ja’a Fii
Silaturahim”








