BELAJAR IKHLAS
Abu
Al-Hulya
Suatu saat,
Nabi Musa as sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Tak lama kemudian,
beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah tempat yang biasa digunakan untuk
shalat bagi masyarakat setempat. Di tempat itu, Nabi Musa as melihat seseorang
sedang beribadah dengan khusyuknya.
Nabi Musa as
penasaran, siapakah laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Nabi Musa
pun akhirnya menanyakan perihal tersebut kepada warga setempat. Menurut
beberapa warga, orang tersebut adalah orang yang ahli ibadah.
Nabi Musa a.s.
kagum melihat orang tua renta yang masih tetap khusyuk beribadah. Dengan
segera, Nabi Musa as mendekatinya dan menyapa, "Wahai hamba
Allah, apa yang hendak engkau pinta dari Allah sehingga engkau begitu khusyuk
dalam beribadah."
"Wahai
Nabiyullah, umurku lebih dari 500 tahun dan aku telah 350 tahun beribadah
kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikitpun," jawab laki-laki
tua itu.
"Subhanallah,
apa yang kamu harapkan dari ibadahmu yang sedemikian lama itu?" tanya Nabi
Musa.
"Aku hanya
ingin tahu, di surga manakah Allah SWT akan meletakkan aku kelak di
akhirat?" kata
ahli ibadah itu.
"Apakah
sudah engkau temukan jawabannya?" tanya Nabi Musa.
"Belum
Nabi, tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT," pinta ahli
ibadah itu.
Karena kagum
dengan ibadah yang dilakukan orang tersebut, Nabi Musa akhirnya mengabulkan
permintaan ahli ibadah itu. Nabi Musa kemudian bermunajat memohon kepada Allah
SWT agar memberitahukan kepadanya dimana umatnya ini akan ditempatkan di
akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai
Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraku-Ku
yang paling dalam."
Meski dengan
berat hati, Nabi Musa tetap mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah
Allah firmankan kepadanya. Saat ahli ibadah itu mendengarkan perkataan Nabi
Musa, ahli ibadah itu terkejut. Ia kaget atas apa yang dikatakan oleh Nabi
Musa. Dengan perasaan sedih, ia pun beranjak dari hadapan Nabi Musa.
Pada malamnya,
ahli ibadah itu terus menerus berfikir mengenai keadaan dirinya. Walaupun
sedih, tapi ia ikhlas atas takdirnya. Ia tidak ingin menuntut apa-apa atas
ibadahnya yang sudah 300 tahun itu. Namun, tiba-tiba terlintas di pikiran
mengenai saudara-saudaranya, teman-temannya dan orang lain yang mana mereka baru
beribadah selama 100 tahun, 200 tahun dan mereka yang belum beribadah sebanyak
dirinya. Ahli ibadah itu berfikir, dimana kelak mereka akan di tempatkan. Ia
merasa iba pada mereka, mungkin saja tempat mereka juga di neraka.
Keesokan
harinya, ia menjumpai Nabi Musa a.s kembali. Ia kemudian berkata, "Wahai Nabi Musa, aku rela kalau Allah SWT memasukkan aku ke dalam
neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah
tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka, maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya
sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku dan tidak akan ada
seorangpun yang akan masuk ke dalamnya karena tubuhku menutupi pintu
neraka,"
Nabi Musa as.
lalu menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa
yang disampaikan oleh Nabi Musa, maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa, sampaikanlah kepada umatmu itu bahwa sekarang Aku akan
menempatkannya di surga-Ku yang paling tinggi."
Karena
keikhlasan ahli ibadah itu, akhirnya ia mendapatkan surga. Nabi Musa pun
memberitahukan kabar ini kepada ahli ibadah yang sudah tua itu. Begitu
mendengar berita yang menyenangkan itu, si ahli ibadah langsung bersyukur
kepada Allah SWT. Ia semakin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan ikhlas di
sisa hidupnya.
Syidad bin Ausi berkata, "Suatu hari saya
melihat Rasulullah SAW sedang menangis, lalu saya pun bertanya beliau, Ya
Rasulullah, mengapa anda menangis?" Sabda Rasulullah S.A.W, "Ya
Syidad, aku menangis karena khuatir terhadap umatku akan perbuatan syirik,
ketahuilah bahwa mereka itu tidak menyembah berhala tetapi mereka berlaku riak
dengan amalan perbuatan mereka."
Rasulullah bersabda lagi, "Para malaikat penjaga
akan naik membawa amal perbuatan para hamba dari puasanya, salatnya, dermanya
dan sebagainya. Para malaikat itu mempunyai suara seperti suara lebah dan
mempunyai sinar matahari dan bersama mereka itu 3,000 malaikat dan mereka
membawa ke langit ke tujuh."
Malaikat yang diserahi ke langit berkata kepada para
malaikat penjaga, "Berdirilah kamu semua dan pukulkanlah amal perbuatan
ini ke muka pemiliknya dan semua anggotanya dan tutuplah hatinya, sungguh saya
menghalangi sampainya kepada Tuhan saya setiap amal perbuatan yang tidak
dikehendaki untuk Tuhan selain daripada Allah (membuat sesuatu amal bukan
kerana Allah)."
"Berlaku riak di kalangan ahli fiqh adalah kerana
inginkan ketinggian supaya mereka menjadi sebutan. Di kalangan para ulama pula
untuk menjadi popular di kota dan di kalangan umum. Allah SWT telah
memerintahkan agar saya tidak membiarkan amalnya melewati saya akan sampai
selain kepada saya."
Malaikat penjaga membawa amal orang-orang shaleh dan
kemudian dibawa oleh malaikat di langit sehingga terbuka semua aling-aling dan
sampai kepada Allah SWT. Mereka berhenti di hariban Allah dan memberikan
persaksian terhadap amal orang tersebut yang betul-betul soleh dan ikhlas
kerana Allah.
Kemudian Allah S.W.T berfirman yang
bermaksud, "Kamu semua adalah para malaikat Hafazdah (malaikat penjaga)
pada amal-amal perbuatan hamba-Ku, sedang Aku-lah yang mengawasi dan mengetahui
hatinya, bahawa sesungguhnya dia menghendaki amal ini bukan untuk-Ku, laknat
para malaikat dan laknat segala sesuatu di langit."
Ikhlas adalah bahasa hati seorang
hamba, sehingga hanya diri dan sang Penciptanya yang bisa memahaminya. Meskipun
masyarakat melihat si hamba tersebut telah banyak beramal dan mengeluarkan
hartanya untuk
Ikhlas
adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan
benar jika tidak melaksanakan rangkaian penghambaan dirinya dengan ikhlas dalam
rangka meraih keridhaan-Nya semata, sebagaimana firman Allah, “Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6] : 162).
Menurut ahli hakikat, ikhlas merupakan syarat
ibadah, sedangkan ahli fikih berpendapat bahwa, jika amal merupakan badan
jasmani, maka ikhlas adalah roh (jiwa)-nya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziah,
seseorang yang ikhlas dalam melakukan perbuatan, tujuan, cita-cita, dan
amalannya semata-mata hanya karena Allah SWT, maka Ia senantiasa menyertainya.
Menurut seorang tokoh mujaddid Mesir dalam bukunya Fatawa As-Sabbab disebutkan
: "Bukanlah ikhlas
dalam rangka menggapai al-ghâyah ad-dunyawiyah (tujuan keduniawian), atau
al-mashâlih adzâtiyah (kemaslahatan materi) dan al-mathâmi’u
asy-syahsiyyah (kepuasaan individu), akan tetapi ikhlas adalah semata-mata
menjalankan ketaatan akan perintah Allah SWT yang jauh dari syirik
(mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan, sebagaimana firman-Nya : “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah [98]
: 5)
Adapun yang dijadikan dasar tentang niat yang ikhlas
adalah hadits riwayat Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat,
sungguh bagi seseorang (melakukan perbuatan) menurut niatnya. Barangsiapa
hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia berhijrah kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia ia akan memperolehnya atau
kepada perempuan yang nikahi, maka hijrahnya adalah kepada yang ia
niatkan" (HR. Bukhari – Muslim).
Menurut para ahli hikmah, ikhlas termasuk salah satu
bagian dari maqam yang perlu dilalui seorang sufi untuk bisa mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Ada pula yang menyebutnya sebagai keadaan jiwa atau
batin seseorang. Menurut Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi, maqam berbeda
dengan hal. Maqam diperoleh melalui upaya manusia, sedangkan hal
diperoleh sebagai anugerah dan rahmat Allah SWT. Hal bersifat sementara, datang
dan pergi dalam perjalanan seorang sufi kepada Allah SWT.
Marilah kita menata hati,
mengkonsentrasikan pikiran, memfokuskan pandangan pada kejadian-kejadian yang
akhir-akhir ini terjadi; banjir, tanah longsor, penyakit yang mewabah
dimana-mana dan masih banyak lagi musibah silih berganti tiada henti. Sudahkah
kita sadari bahwa ada sebuah kekuatan yang telah mengatur segala kejadian
tersebut? Disadari atau tidak, jika Allah berkehendak, maka tiada seorangpun
yang mampu lari daripada-Nya. Kata “ikhlas‟ berasal dari bahasa Arab
“kha-la-sha” atau “akh-la-sha” yang berarti bersih, jernih, murni, selamat,
bebas, jujur, tulus, dan tidak bercampur dengan sesuatu yang lain atau dalam
makna yang lain berarti membersihkan sesuatu
sehingga menjadi bersih. Fa’il (subjek)-nya disebut sebagai “mukhlis” yakni
seseorang yang melakukan perbuatan
semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.
Ditinjau dari al-Qur’an, kata ikhlas sendiri sebenarnya
tidak dijumpai secara langsung penggunaannya, akan tetapi kita dapat menjumpai
kata-kata yang bersinonim dengan kata ikhlas tersebut dalam tiga puluh ayat
dengan penggunaan kata yang beragam, antara lain, khalashuu, akhlashnaahum,
akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing
sebanyak satu kali. Selanjutnya kata khaalishah sebanyak lima kali, mukhlish
(tunggal) disebutkan sebanyak tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin
(jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin
(jamak) sebanyak delapan kali.
Selanjutnya, dari segi bahasa
masing-masing kata tersebut diatas juga mengandung yang beragam pengertian, pertama,
“Khaalish” atau “Khaalishan”, yaitu bersih dan
tidak dicampuri noda apapun. Seperti dalam firman Allah, “Ingatlah, hanya
kepunyaaan Allah-lah agama yang bersih.” (QS. Az-Zumar [39]: 3). Dalam
ayat yang lain Allah berfirman, “Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu
benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. kami memberimu minum dari pada apa
yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah,
yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An-Nahl [16]:
66).
Kedua,
“Khalashuu”, yaitu memproteksi diri, sebagaimana dalam
firman Allah, “Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan)
Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik.” (QS.
Yûsuf [12]: 80).
Ketiga, “Khaalishah”, yaitu khusus untukmu, sebagaimana dalam
firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan
(menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan
(manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shâd [38]: 46). Kata
“Khalishah” juga disebutkan dalam surat al-Baqarah
ayat 94, surat al-An’am ayat 139 dan Surat Al-A’raaf ayat 32.
Keempat, Mukhlishan, yaitu orang yang ikhlas memperjuangkan
agamanya hanya untuk Allah semata, dan tidak ada cela sedikit pun.
Kadangkala kata mukhlishan dipadukan dengan kata mukhlishin
atau mukhlisun. Seperti dalam firman Allah, “Katakanlah, ‘Hanya Allah
saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agamaku.’” (QS. Az-Zumar [39]: 14); dalam ayat yang lain Allah
berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.’” (QS.
Az-Zumar [39]: 11). Disamping itu, kata muklishan atau mukhlisin
atau mukhlasan juga terdapat dalam surat al-Zumar ayat 2, surat al-Baqarah
ayat 139, surat al-A’raf ayat 29, surat Yunus ayat 22, surat al-Ankabut ayat
65, surat Luqmaan ayat 32, surat Ghaafir ayat 14,65, surat an-Nisaa ayat 146,
dan surat al-Bayyinah ayat 5.
Kelima, Mukhlashan, kadangkala kata ini dipadukan
dengan kata mukhalashin yang bermakna dipilih, sebagaimana dalam
firman Allah, “Sesungguhnya dia adalah orang yang dipilih dan seorang rasul
dan nabi.” (QS. Maryam [19]: 51). Dalam ayat lain Allah
berfirman, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih”
(QS. Yusuf [12]: 24). Masih dalam makna yang sama akan tetapi dalam
bentuk aktif “Astakhlish”
yang berarti aku memilih”, seperti dalam firman Allah, “Dan
raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar Aku memilih dia sebagai orang
yang rapat kepadaku". (QS. Yusuf [12]: 54). Kata ini juga
terdapat dalam surat al-Hijr ayat 40, surat al-Shaffat ayat 40,74,128,166,169, dan
surat Shaad ayat 83.
Ikhlas adalah bahasa hati, yang mendengar
hanyalah diri sendiri dan Allah sebab tujuan utamanya adalah ridha Allah. Maka
marilah kita berusaha ikhlas dalam setiap amal dan perbuatan kita. Si kaya yang banyak harta, ataupun si miskin papa yang
hidup dirundung derita.
Marilah kita nasihati diri ini agar tidak mencari siapa
yang harus bertanggung jawab atas segala musibah yang selama ini terus menimpa.
Semua yang ada dimuka bumi ini adalah saling berkaitan dan saling menguatkan.
Jagalah diri untuk tidak merasa bahwa diri kitalah paling
benar, meski selama ini orang telah menganggap diri kita yang benar; jagalah
hati bahwa diri kita yang paling banyak mendapat cobaan, meski selama ini hidup
di tengah penderitaan; jagalah lisan agar tidak bericara bahwa diri kitalah
yang paling berjasa memberikan pertolongan kepada setiap orang yang sedang
tertimpa bencana, meski harta, jiwa dan tenaga telah kita curahkan untuk
membantu sesama. Wallahu a’lam bishshawab.









