ANTARA CINTA DAN
PENGORBANAN
Abu Al-Hulya
Berbicara tentang cinta
berarti berbicara tentang aneka keindahan dan kesenangan hidup di dunia. Cinta
biasanya dimaknai dengan ketertarikan seseorang kepada suatu objek baik itu
berupa benda hidup ataupun benda mati. Dalam hal ini secara gamblang Allah SWT
telah menggambarkannya dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 14.
Cinta adalah anugrah
Allah yang indah dan unik bagi para hamba-Nya. Ditumbuhkannya cinta dalam hati
manusia agar mereka saling mengasihi, mengalir rasa peduli, tumbuh empati untuk
berbagi, mekarnya rasa tenang dan damai, membakar hamazah dan semangat
untuk berkorban walaupun harus bertaruh harta, darah dan nyawa untuk
mendapatkannya. Inilah kecintaan telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah
SAW ketika mendakwahkan agama Islam.
Cinta meskipun letaknya
tersembunyi di dasar hati, akan tetapi getaran cinta mampu mempengaruhi pikiran
sekaligus mengendalikan tindakan. Cinta mampu mengubah derita menjadi nikmat
sebagaimana kisah nabi Ayyub, mengubah penjara menjadi tempat wisata
sebagaimana kisah nabi Yusuf, mengubah kemarahan menjadi hidayah sebagaimana
kisah masuknya Umar bin Khattab. Sebaliknya, ketika cinta atau kecintaan kepada
makhluk, benda, bisnis serta ragam kesenangan dunia yang lain tidak disandarkan
kepada Allah dan rasul-Nya sehingga melalaikannya untuk beribadah kepada Allah
SWT niscaya akan tersebar fitnah dan bencana di atas muka bumi. Cinta seorang
Fir’aun terhadap tahta menjadikannya penguasa yang semena-mena terhadap
rakyatnya, cinta Qarun terhadap harta menjadikannya lupa bersyukur, cinta Qabil
terhadap wanita yang bukan menjadi haknya telah membutakan matanya sehingga
harus membunuh saudaranya. Disaat inilah cinta mengubah suka cita menjadi
nestapa, mengubah amanat menjadi khianat, dan akhirnya mengubah nikmat menjadi
laknat. Sebagaimana firman Allah dalam surat QS At-Taubah ayat 24.
Cinta adalah sebuah
naluri yang diilhamkan Allah kepada para hamba-Nya agar tercipta ketentraman diri
sehingga mampu membina kasih sayang kepada sesama, sebagaimana kecintaan kepada
pasangan yang digambarkan Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21. Bukti cinta
seorang muslim kepada harta adalah dengan mencarinya melalui cara yang baik dan
membelanjakan sebagiannya untuk kepentingan agamanya, bukti cinta seorang muslim
kepada anak-anak dan keluarganya adalah dengan mengarahkan mereka kepada jalan
tuhannya sebagaimana Lukman alhakim menasehati anaknya, bukti cinta seorang
muslim kepada saudaranya adalah memberikan hak dan menjaga nama baiknya, bukti
cinta seorang muslim kepada negaranya adalah menegakkan hukum Allah didalam
mengatur masyarakatnya.
Cinta adalah nikmat Allah
kepada para hamba-Nya sebagai media untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan cinta
manusia tumbuh empati untuk berbagi, dengan cinta manusia akan berkorban bagi
sesuatu yang mereka cintai, dengan cinta manusia bisa menemukan jalan menuju
kekasih sejati, dan dengan cinta pula manusia bisa menggapai maqam tertinggi
yang membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Inilah cinta Allah
dan rasul-Nya yang terarah, teruji, dan mampu dikendarai untuk mengejar ridha
illahi.
Hakekatnya, kecintaan manusia kepada dunia
adalah fitrah dan diperbolehkan selama kecintaan tersebut tidak
berlebih-lebihan sehingga menghalangi dari mengingat Allah. Karena cinta kepada
dunia adalah ujian, maka barangsiapa yang mampun menjalani proses ujian ini
dengan baik niscaya seorang hamba akan mendapatkan pahala yang tinggi
disisi-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya ”Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan
dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah
yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu
(disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk
mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu
bagi orang-orang yang Mengetahui. (QS. Al-A’raf : 31-32).
”Hai orang-orang mukmin,
Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan
tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan
(bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun :
14-15)
Sebaliknya, cinta yang tidak disandarkan
kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan menjatuhkan derajat kemanusiaan seorang
hamba, menjadikannya pengikut syetan yang mengubah cinta menjadi nafsu angkara
murka yang tidak pernah menemukan ujung pangkalnya. Hilang kepedulian kepada
sesama, musnahnya rasa ikhlas, terhapusnya tenggang rasa, yang akhirnya
terjabutnya iman dari dalam dada.
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan
Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasik.” (QS At-Taubah ayat 24).
Cinta
seorang muslim berbeda dengan cinta orang-orang munafik. Cinta seorang muslim
tulus muncul atas dasar keimanan kepada Allah dan rasul-Nya. Hatinya senantiasa
tertaut dengan-Nya, jiwanya hidup bersama-Nya, rindunya menggebu untuk
segera bertemu dengan-Nya, lisannya selalu basah menyebut nama-Nya, hatinya
bergetar ketika mendengar ayat-ayat-Nya, kakinya segera bergegas menuju
kepada-Nya setiap kali Allah memanggil.
Cinta
seorang mukmin kepada Tuhannya tak penah terbagi. Meski nyawa harus
melayang di ujung sebilah pedang atau di atas tiang gantungan. Cinta Allah dan
Rasul-Nya yang berujung pada kenikmatan abadi yang tiada pernah mengenal kata
akhir. Cinta yang diwujudkan dengan mengikuti perintah-Nya, mengutamakan taat
kepada-Nya dan mencari ridha-Nya. Sebaliknya cinta Allah kepada para hamba-Nya
yang mukmin adalah pujian Allah atas mereka, pahala-Nya atas mereka,
ampunan-Nya dan anugrah rahmat-Nya kepada mereka, pemeliharaan dari dosa dan
taufik-Nya. Ali bin Abi
Thalib berkata : "Barangsiapa yang merindukan surga tentu ia bergegas
melangkah menuju segala macam kebaikan, barangsiapa yang takut kepada neraka
tentu ia akan mencegah nafsunya dari kesenangan-kesenangan dan barangsiapa meyakini
kematian tentu remeh baginya segala macam kelezatan dalam pandangannya".
Berani bercinta berarti berani berkorban,
karena konskwensi dari cinta adalah pengorbanan. Inilah cinta sejati yang telah
dibuktikan oleh Nabi Ibrahim, seorang hamba Allah yang didalam al-Qur’an
disebut sebagai ummat. Penyebutan ini adalah merupakan gambaran dirinya yang
menjadi sosok penuh cinta dan telah sukses menanamkan rasa cinta kepada
keluarganya. Cintanya kepada Allah telah mengalahkan cintanya kepada dirinya,
meski telah diusir oleh orangtuanya akan tetapi ia tetap mendoakannya, ”Berkata
bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu
tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat
waktu yang lama". Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan
kepadamu, Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia
sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam : 47)
Kebesaran cinta nabi
Ibrahim kepada dakwah juga telah beliau tampakkan ketika dihadapkan kepada bara
api yang siap melalap tubuhnya, tidak nampak sedikitpun ketakutan diwajahnya, Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa
ketika Jibril menampakkan dirinya kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada
Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak
perlu bantuan. Cintanya telah terpatri hanya kepada Allah, tidak terbagi
ataupun merengek-rengek minta dikasihani.
Cinta Nabi Ibrahim kepada
sang Pencinta telah mengalahkan kecintaannya kepada anak-istrinya ketika
perintah datang dari sang Kekasih untuk mengorbankan puteranya, Ismail sang
permata hati yang telah sekian lama ditunggu kehadirannya. Tatkala seruan itu
datang, dengan bijaksana, ia meminta pendapat lebih dahulu kepada putranya akan
isyarat dari Allah tersebut sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an : "...Ibrahim
berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!..." (QS.
Ash-Shaffat [37] : 102)
Jawaban Ismail telah
membuktikan bahwa ia adalah seseorang berliput cinta, dalam suara yang penuh
cinta, ia meyakinkan bapaknya bahwa penyembelihan dirinya itu adalah suatu
perintah sebagai bagian dari ujian Allah kepadanya : "...Ia men-jawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat
[37] : 102)
Inilah ungkapan yang
merupakan bentuk akhlaq bersama Allah yang mengetahui batas-batas kemam-puannya
dalam menanggung perintah, dan meminta pertolongan kepada Rabbnya dari
kelemahannya. Alangkah indahnya akhlaknya terhadap Allah, betapa besar cintanya
kepada Allah, melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri.
Ibrahim berjalan diiringi
putranya Isma'il ke sebuah tempat yang sunyi pinggiran Makkah, Mina. Sebelum
acara penyembelihan tersebut dimulai Isma'il mengajukan tiga permohonan, yaitu;
pertama, sebelum dia disembelih hendaknya ayahnya menajamkan pisaunya agar ia
cepat mati dan tidak timbul kasihan maupun penyesalan dari ayahnya; kedua,
ketika menyembelih, muka Isma'il harus ditutup agar tidak timbul rasa ragu
dalam hati ayahnya; ketiga, bila penyembelihan tersebut telah selasai, maka
pakainnya yang berlumuran darah dibawa kehadapan ibunya, sebagai saksi bahwa
kurban telah dilaksanakan.
Adakah generasi muda saat
ini yang dengan tulus menyerahkan dirinya kepada Allah SWT? Inilah contoh
teladan sepanjang zaman. Kemudian Ibrahim membaringkan putranya diatas
pelipisnya untuk bersiap-siap menghadapi perintah Allah ini. Keduanya telah
menyerahkan diri. Dan inilah hakekat Islam yang sesungguhnya. Keyakinan,
ketaatan, ketenangan, keridhaan, penyerahan diri dan pelaksanaan. Tidak ada
darah yang bergolak, tidak ada semangat yang berlebihan, juga tidak ada
kesembronoan yang tergesa-gesa, yang dibelakangnya tersembunyi rasa takut, tapi
ini adalah penyerahan diri yang sadar, berakal, bertujuan, dan merasa tenang
dengan apa yang akan terjadi.
Sesudah nyata kesabaran
dan ketaatan Ibrahim dan Ismail. Cobaan sudah terlaksana. Ujian sudah terjadi.
Hasilnya telah nampak. Tujuan sudah terlaksana. Sehingga yang tersisa hanya
kepedihan tubuh. Darah yang dialirkan dan tubuh yang disembelih. Namun Allah
SWT tidak berkehendak untuk mengazab hamba-hamba-Nya dengan cobaan. Juga tidak
menghendaki darah dan tubuh keduanya sama sekali. Kemudian Allah menebus jiwa
yang telah menyerahkan dirinya dan menunaikan tugasnya. Dia menebusnya dengan
seekor sembelihan yang besar. Seekor kambing yang telah disiapkan Allah untuk disembelih
oleh Ibrahim sebagai ganti putranya, Isma'il. Allah berfirman : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat [37] : 107)
Peristiwa inilah kemudian
diabadikan oleh Allah SWT menjadi salah satu unsur syari'at Islam, yakni al-Udhiyyahyang
hingga kini dilaksanakan bagi mereka yang mampu. Sebagai pengingat bagi
kejadian besar ini, yang mengangkat menara bagi hakekat keimanan, keindahan
ketaatan, kecintaan yang tak pernah tergadaikan.
Al-Udhiyyah atau Kurban berarti
menyembelih binatang di waktu matahari sedang naik di pagi hari atau berkurban.
Berasal dari kata
dahwah atau dhuha (waktu sedang naik di pagi hari). Dari kata
dahwah atau dhuha tersebut diambil kata dahiyah yang jamaknya udhiyyah.
Berkurban adalah sebagai wujud daripada loyalitas dan kecintaan, serta
kesyukuran atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada para hamba-Nya.
Firman Allah : "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang
banyak. Maka dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah". (QS.
Al-Kautsar [108] : 1-3)
Nikmat Allah telah
tersebar di seluruh kehidupan kita, dari semenjak bangun tidur hingga tidur
kembali, nikmat yang tidak akan pernah terhitung. Kewajiban kita bukan
menghitungnya, namun adalah mensyukuri. Syukur sebagai ungkapan terima kasih
kepada-Nya. Dan salah satu tanda kesyukuran itu adalah mengalirkan darah hewan
kurban. Dalam haditsyang diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda
: "Sesungguhnya darah orang yang berkorban itu datang pada hari kiamat
membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu dan sesungguhnya darah
(kurban) yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah dari (darah)
jatuh di permukaan bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban itu".(HR.
Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh
Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memiliki
kelebihan, tetapi tidak berkorban, maka jangan menghampiri mushalla kami" (HR.
Ibnu Majah)
Ibadah kurban merupakan
momentum yang tepat untuk meneladani nilai-nilai yang ada padanya, yaitu;
pengorbanan, perjuangan dan pertolongan sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan
putranya, Isma'il. Bagi mereka yang melaksanakan akan mendapatkan ganjaran
kebaikan dari Allah sementara itu bagi mereka yang mendapatkan daging tersebut
adalah nikmat yang sangat didambakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan
asupan protein hewani. Sebagaimana kita saksikan kondisi
bangsa ini terpuruk dalam kemiskinan yang semakin lama semakin bertambah.
Kelaparan, qizi buruk, kekurangan makanan menjadi pemandangan yang setiap hari
berseliweran di pelupuk mata kita.
Marilah kita berdoa semoga pada tahun ini,
kita mampu melaksanakan ibadah kurban, sebagai bukti cinta kepada Allah serta
ketaatan kepada rasul-Nya. Amin Yaa Rabbal Alamin.










