latest news

Antara cinta dan pengorbanan



ANTARA CINTA DAN PENGORBANAN
Abu Al-Hulya

Berbicara tentang cinta berarti berbicara tentang aneka keindahan dan kesenangan hidup di dunia. Cinta biasanya dimaknai dengan ketertarikan seseorang kepada suatu objek baik itu berupa benda hidup ataupun benda mati. Dalam hal ini secara gamblang Allah SWT telah menggambarkannya dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 14.
Cinta adalah anugrah Allah yang indah dan unik bagi para hamba-Nya. Ditumbuhkannya cinta dalam hati manusia agar mereka saling mengasihi, mengalir rasa peduli, tumbuh empati untuk berbagi, mekarnya rasa tenang dan damai, membakar hamazah dan semangat untuk berkorban walaupun harus bertaruh harta, darah dan nyawa untuk mendapatkannya. Inilah kecintaan telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW ketika mendakwahkan agama Islam.
Cinta meskipun letaknya tersembunyi di dasar hati, akan tetapi getaran cinta mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Cinta mampu mengubah derita menjadi nikmat sebagaimana kisah nabi Ayyub, mengubah penjara menjadi tempat wisata sebagaimana kisah nabi Yusuf, mengubah kemarahan menjadi hidayah sebagaimana kisah masuknya Umar bin Khattab. Sebaliknya, ketika cinta atau kecintaan kepada makhluk, benda, bisnis serta ragam kesenangan dunia yang lain tidak disandarkan kepada Allah dan rasul-Nya sehingga melalaikannya untuk beribadah kepada Allah SWT niscaya akan tersebar fitnah dan bencana di atas muka bumi. Cinta seorang Fir’aun terhadap tahta menjadikannya penguasa yang semena-mena terhadap rakyatnya, cinta Qarun terhadap harta menjadikannya lupa bersyukur, cinta Qabil terhadap wanita yang bukan menjadi haknya telah membutakan matanya sehingga harus membunuh saudaranya. Disaat inilah cinta mengubah suka cita menjadi nestapa, mengubah amanat menjadi khianat, dan akhirnya mengubah nikmat menjadi laknat. Sebagaimana firman Allah dalam surat QS At-Taubah ayat 24.
Cinta adalah sebuah naluri yang diilhamkan Allah kepada para hamba-Nya agar tercipta ketentraman diri sehingga mampu membina kasih sayang kepada sesama, sebagaimana kecintaan kepada pasangan yang digambarkan Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21. Bukti cinta seorang muslim kepada harta adalah dengan mencarinya melalui cara yang baik dan membelanjakan sebagiannya untuk kepentingan agamanya, bukti cinta seorang muslim kepada anak-anak dan keluarganya adalah dengan mengarahkan mereka kepada jalan tuhannya sebagaimana Lukman alhakim menasehati anaknya, bukti cinta seorang muslim kepada saudaranya adalah memberikan hak dan menjaga nama baiknya, bukti cinta seorang muslim kepada negaranya adalah menegakkan hukum Allah didalam mengatur masyarakatnya.
Cinta adalah nikmat Allah kepada para hamba-Nya sebagai media untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan cinta manusia tumbuh empati untuk berbagi, dengan cinta manusia akan berkorban bagi sesuatu yang mereka cintai, dengan cinta manusia bisa menemukan jalan menuju kekasih sejati, dan dengan cinta pula manusia bisa menggapai maqam tertinggi yang membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Inilah cinta Allah dan rasul-Nya yang terarah, teruji, dan mampu dikendarai untuk mengejar ridha illahi.
Hakekatnya, kecintaan manusia kepada dunia adalah fitrah dan diperbolehkan selama kecintaan tersebut tidak berlebih-lebihan sehingga menghalangi dari mengingat Allah. Karena cinta kepada dunia adalah ujian, maka barangsiapa yang mampun menjalani proses ujian ini dengan baik niscaya seorang hamba akan mendapatkan pahala yang tinggi disisi-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui. (QS. Al-A’raf : 31-32).
”Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun : 14-15)
Sebaliknya, cinta yang tidak disandarkan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan menjatuhkan derajat kemanusiaan seorang hamba, menjadikannya pengikut syetan yang mengubah cinta menjadi nafsu angkara murka yang tidak pernah menemukan ujung pangkalnya. Hilang kepedulian kepada sesama, musnahnya rasa ikhlas, terhapusnya tenggang rasa, yang akhirnya terjabutnya iman dari dalam dada.
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24).
Cinta seorang muslim berbeda dengan cinta orang-orang munafik. Cinta seorang muslim tulus muncul atas dasar keimanan kepada Allah dan rasul-Nya. Hatinya senantiasa tertaut dengan-Nya, jiwanya hidup bersama-Nya, rindunya menggebu untuk segera bertemu dengan-Nya, lisannya selalu basah menyebut nama-Nya, hatinya bergetar ketika mendengar ayat-ayat-Nya, kakinya segera bergegas menuju kepada-Nya setiap kali Allah memanggil.
Cinta seorang mukmin kepada Tuhannya tak penah terbagi. Meski nyawa harus melayang di ujung sebilah pedang atau di atas tiang gantungan. Cinta Allah dan Rasul-Nya yang berujung pada kenikmatan abadi yang tiada pernah mengenal kata akhir. Cinta yang diwujudkan dengan mengikuti perintah-Nya, mengutamakan taat kepada-Nya dan mencari ridha-Nya. Sebaliknya cinta Allah kepada para hamba-Nya yang mukmin adalah pujian Allah atas mereka, pahala-Nya atas mereka, ampunan-Nya dan anugrah rahmat-Nya kepada mereka, pemeliharaan dari dosa dan taufik-Nya. Ali bin Abi Thalib berkata : "Barangsiapa yang merindukan surga tentu ia bergegas melangkah menuju segala macam kebaikan, barangsiapa yang takut kepada neraka tentu ia akan mencegah nafsunya dari kesenangan-kesenangan dan barangsiapa meyakini kematian tentu remeh baginya segala macam kelezatan dalam pandangannya".
Berani bercinta berarti berani berkorban, karena konskwensi dari cinta adalah pengorbanan. Inilah cinta sejati yang telah dibuktikan oleh Nabi Ibrahim, seorang hamba Allah yang didalam al-Qur’an disebut sebagai ummat. Penyebutan ini adalah merupakan gambaran dirinya yang menjadi sosok penuh cinta dan telah sukses menanamkan rasa cinta kepada keluarganya. Cintanya kepada Allah telah mengalahkan cintanya kepada dirinya, meski telah diusir oleh orangtuanya akan tetapi ia tetap mendoakannya, ”Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama". Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam : 47)
Kebesaran cinta nabi Ibrahim kepada dakwah juga telah beliau tampakkan ketika dihadapkan kepada bara api yang siap melalap tubuhnya, tidak nampak sedikitpun ketakutan diwajahnya, Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa ketika Jibril menampakkan dirinya kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak perlu bantuan. Cintanya telah terpatri hanya kepada Allah, tidak terbagi ataupun merengek-rengek minta dikasihani.
Cinta Nabi Ibrahim kepada sang Pencinta telah mengalahkan kecintaannya kepada anak-istrinya ketika perintah datang dari sang Kekasih untuk mengorbankan puteranya, Ismail sang permata hati yang telah sekian lama ditunggu kehadirannya. Tatkala seruan itu datang, dengan bijaksana, ia meminta pendapat lebih dahulu kepada putranya akan isyarat dari Allah tersebut sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an : "...Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!..." (QS. Ash-Shaffat [37] : 102)
Jawaban Ismail telah membuktikan bahwa ia adalah seseorang berliput cinta, dalam suara yang penuh cinta, ia meyakinkan bapaknya bahwa penyembelihan dirinya itu adalah suatu perintah sebagai bagian dari ujian Allah kepadanya : "...Ia men-jawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat [37] : 102)
Inilah ungkapan yang merupakan bentuk akhlaq bersama Allah yang mengetahui batas-batas kemam-puannya dalam menanggung perintah, dan meminta pertolongan kepada Rabbnya dari kelemahannya. Alangkah indahnya akhlaknya terhadap Allah, betapa besar cintanya kepada Allah, melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri.
Ibrahim berjalan diiringi putranya Isma'il ke sebuah tempat yang sunyi pinggiran Makkah, Mina. Sebelum acara penyembelihan tersebut dimulai Isma'il mengajukan tiga permohonan, yaitu; pertama, sebelum dia disembelih hendaknya ayahnya menajamkan pisaunya agar ia cepat mati dan tidak timbul kasihan maupun penyesalan dari ayahnya; kedua, ketika menyembelih, muka Isma'il harus ditutup agar tidak timbul rasa ragu dalam hati ayahnya; ketiga, bila penyembelihan tersebut telah selasai, maka pakainnya yang berlumuran darah dibawa kehadapan ibunya, sebagai saksi bahwa kurban telah dilaksanakan.
Adakah generasi muda saat ini yang dengan tulus menyerahkan dirinya kepada Allah SWT? Inilah contoh teladan sepanjang zaman. Kemudian Ibrahim membaringkan putranya diatas pelipisnya untuk bersiap-siap menghadapi perintah Allah ini. Keduanya telah menyerahkan diri. Dan inilah hakekat Islam yang sesungguhnya. Keyakinan, ketaatan, ketenangan, keridhaan, penyerahan diri dan pelaksanaan. Tidak ada darah yang bergolak, tidak ada semangat yang berlebihan, juga tidak ada kesembronoan yang tergesa-gesa, yang dibelakangnya tersembunyi rasa takut, tapi ini adalah penyerahan diri yang sadar, berakal, bertujuan, dan merasa tenang dengan apa yang akan terjadi.
Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail. Cobaan sudah terlaksana. Ujian sudah terjadi. Hasilnya telah nampak. Tujuan sudah terlaksana. Sehingga yang tersisa hanya kepedihan tubuh. Darah yang dialirkan dan tubuh yang disembelih. Namun Allah SWT tidak berkehendak untuk mengazab hamba-hamba-Nya dengan cobaan. Juga tidak menghendaki darah dan tubuh keduanya sama sekali. Kemudian Allah menebus jiwa yang telah menyerahkan dirinya dan menunaikan tugasnya. Dia menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar. Seekor kambing yang telah disiapkan Allah untuk disembelih oleh Ibrahim sebagai ganti putranya, Isma'il. Allah berfirman : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat [37] : 107)
Peristiwa inilah kemudian diabadikan oleh Allah SWT menjadi salah satu unsur syari'at Islam, yakni al-Udhiyyahyang hingga kini dilaksanakan bagi mereka yang mampu. Sebagai pengingat bagi kejadian besar ini, yang mengangkat menara bagi hakekat keimanan, keindahan ketaatan, kecintaan yang tak pernah tergadaikan.
Al-Udhiyyah atau Kurban berarti menyembelih binatang di waktu matahari sedang naik di pagi hari atau berkurban. Berasal dari kata dahwah atau dhuha (waktu sedang naik di pagi hari). Dari kata dahwah atau dhuha tersebut diambil kata dahiyah yang jamaknya udhiyyah. Berkurban adalah sebagai wujud daripada loyalitas dan kecintaan, serta kesyukuran atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada para hamba-Nya. Firman Allah : "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah". (QS. Al-Kautsar [108] : 1-3)
Nikmat Allah telah tersebar di seluruh kehidupan kita, dari semenjak bangun tidur hingga tidur kembali, nikmat yang tidak akan pernah terhitung. Kewajiban kita bukan menghitungnya, namun adalah mensyukuri. Syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada-Nya. Dan salah satu tanda kesyukuran itu adalah mengalirkan darah hewan kurban. Dalam haditsyang diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya darah orang yang berkorban itu datang pada hari kiamat membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu dan sesungguhnya darah (kurban) yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah dari (darah) jatuh di permukaan bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban itu".(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memiliki kelebihan, tetapi tidak berkorban, maka jangan menghampiri mushalla kami" (HR. Ibnu Majah)
Ibadah kurban merupakan momentum yang tepat untuk meneladani nilai-nilai yang ada padanya, yaitu; pengorbanan, perjuangan dan pertolongan sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Isma'il. Bagi mereka yang melaksanakan akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah sementara itu bagi mereka yang mendapatkan daging tersebut adalah nikmat yang sangat didambakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan asupan protein hewani. Sebagaimana kita saksikan kondisi bangsa ini terpuruk dalam kemiskinan yang semakin lama semakin bertambah. Kelaparan, qizi buruk, kekurangan makanan menjadi pemandangan yang setiap hari berseliweran di pelupuk mata kita.
Marilah kita berdoa semoga pada tahun ini, kita mampu melaksanakan ibadah kurban, sebagai bukti cinta kepada Allah serta ketaatan kepada rasul-Nya. Amin Yaa Rabbal Alamin.

Belajar Ikhlas



BELAJAR IKHLAS
Abu Al-Hulya


Suatu saat, Nabi Musa as sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Tak lama kemudian, beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah tempat yang biasa digunakan untuk shalat bagi masyarakat setempat. Di tempat itu, Nabi Musa as melihat seseorang sedang beribadah dengan khusyuknya.
Nabi Musa as penasaran, siapakah laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Nabi Musa pun akhirnya menanyakan perihal tersebut kepada warga setempat. Menurut beberapa warga, orang tersebut adalah orang yang ahli ibadah.
Nabi Musa a.s. kagum melihat orang tua renta yang masih tetap khusyuk beribadah. Dengan segera, Nabi Musa as mendekatinya dan menyapa, "Wahai hamba Allah, apa yang hendak engkau pinta dari Allah sehingga engkau begitu khusyuk dalam beribadah."
"Wahai Nabiyullah, umurku lebih dari 500 tahun dan aku telah 350 tahun beribadah kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikitpun," jawab laki-laki tua itu.
"Subhanallah, apa yang kamu harapkan dari ibadahmu yang sedemikian lama itu?" tanya Nabi Musa.
"Aku hanya ingin tahu, di surga manakah Allah SWT akan meletakkan aku kelak di akhirat?" kata ahli ibadah itu.
"Apakah sudah engkau temukan jawabannya?" tanya Nabi Musa.
"Belum Nabi, tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT," pinta ahli ibadah itu.
Karena kagum dengan ibadah yang dilakukan orang tersebut, Nabi Musa akhirnya mengabulkan permintaan ahli ibadah itu. Nabi Musa kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar memberitahukan kepadanya dimana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraku-Ku yang paling dalam."
Meski dengan berat hati, Nabi Musa tetap mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah Allah firmankan kepadanya. Saat ahli ibadah itu mendengarkan perkataan Nabi Musa, ahli ibadah itu terkejut. Ia kaget atas apa yang dikatakan oleh Nabi Musa. Dengan perasaan sedih, ia pun beranjak dari hadapan Nabi Musa.
Pada malamnya, ahli ibadah itu terus menerus berfikir mengenai keadaan dirinya. Walaupun sedih, tapi ia ikhlas atas takdirnya. Ia tidak ingin menuntut apa-apa atas ibadahnya yang sudah 300 tahun itu. Namun, tiba-tiba terlintas di pikiran mengenai saudara-saudaranya, teman-temannya dan orang lain yang mana mereka baru beribadah selama 100 tahun, 200 tahun dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya. Ahli ibadah itu berfikir, dimana kelak mereka akan di tempatkan. Ia merasa iba pada mereka, mungkin saja tempat mereka juga di neraka.
Keesokan harinya, ia menjumpai Nabi Musa a.s kembali. Ia kemudian berkata, "Wahai Nabi Musa, aku rela kalau Allah SWT memasukkan aku ke dalam neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka, maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku dan tidak akan ada seorangpun yang akan masuk ke dalamnya karena tubuhku menutupi pintu neraka,"
Nabi Musa as. lalu menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa, maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa, sampaikanlah kepada umatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di surga-Ku yang paling tinggi."
Karena keikhlasan ahli ibadah itu, akhirnya ia mendapatkan surga. Nabi Musa pun memberitahukan kabar ini kepada ahli ibadah yang sudah tua itu. Begitu mendengar berita yang menyenangkan itu, si ahli ibadah langsung bersyukur kepada Allah SWT. Ia semakin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan ikhlas di sisa hidupnya.
Syidad bin Ausi berkata, "Suatu hari saya melihat Rasulullah SAW sedang menangis, lalu saya pun bertanya beliau, Ya Rasulullah, mengapa anda menangis?" Sabda Rasulullah S.A.W, "Ya Syidad, aku menangis karena khuatir terhadap umatku akan perbuatan syirik, ketahuilah bahwa mereka itu tidak menyembah berhala tetapi mereka berlaku riak dengan amalan perbuatan mereka."
Rasulullah bersabda lagi, "Para malaikat penjaga akan naik membawa amal perbuatan para hamba dari puasanya, salatnya, dermanya dan sebagainya. Para malaikat itu mempunyai suara seperti suara lebah dan mempunyai sinar matahari dan bersama mereka itu 3,000 malaikat dan mereka membawa ke langit ke tujuh."
Malaikat yang diserahi ke langit berkata kepada para malaikat penjaga, "Berdirilah kamu semua dan pukulkanlah amal perbuatan ini ke muka pemiliknya dan semua anggotanya dan tutuplah hatinya, sungguh saya menghalangi sampainya kepada Tuhan saya setiap amal perbuatan yang tidak dikehendaki untuk Tuhan selain daripada Allah (membuat sesuatu amal bukan kerana Allah)."
"Berlaku riak di kalangan ahli fiqh adalah kerana inginkan ketinggian supaya mereka menjadi sebutan. Di kalangan para ulama pula untuk menjadi popular di kota dan di kalangan umum. Allah SWT telah memerintahkan agar saya tidak membiarkan amalnya melewati saya akan sampai selain kepada saya."
Malaikat penjaga membawa amal orang-orang shaleh dan kemudian dibawa oleh malaikat di langit sehingga terbuka semua aling-aling dan sampai kepada Allah SWT. Mereka berhenti di hariban Allah dan memberikan persaksian terhadap amal orang tersebut yang betul-betul soleh dan ikhlas kerana Allah.
Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Kamu semua adalah para malaikat Hafazdah (malaikat penjaga) pada amal-amal perbuatan hamba-Ku, sedang Aku-lah yang mengawasi dan mengetahui hatinya, bahawa sesungguhnya dia menghendaki amal ini bukan untuk-Ku, laknat para malaikat dan laknat segala sesuatu di langit."
Ikhlas adalah bahasa hati seorang hamba, sehingga hanya diri dan sang Penciptanya yang bisa memahaminya. Meskipun masyarakat melihat si hamba tersebut telah banyak beramal dan mengeluarkan hartanya untuk
Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak melaksanakan rangkaian penghambaan dirinya dengan ikhlas dalam rangka meraih keridhaan-Nya semata, sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6] : 162).
Menurut ahli hakikat, ikhlas merupakan syarat ibadah, sedangkan ahli fikih berpendapat bahwa, jika amal merupakan badan jasmani, maka ikhlas adalah roh (jiwa)-nya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziah, seseorang yang ikhlas dalam melakukan perbuatan, tujuan, cita-cita, dan amalannya semata-mata hanya karena Allah SWT, maka Ia senantiasa menyertainya. Menurut seorang tokoh mujaddid Mesir dalam bukunya Fatawa As-Sabbab disebutkan : "Bukanlah ikhlas dalam rangka menggapai al-ghâyah ad-dunyawiyah (tujuan keduniawian), atau al-mashâlih adzâtiyah (kemaslahatan materi) dan al-mathâmi’u asy-syahsiyyah (kepuasaan individu), akan tetapi ikhlas adalah semata-mata menjalankan ketaatan akan perintah Allah SWT yang jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan, sebagaimana firman-Nya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah [98] : 5)
Adapun yang dijadikan dasar tentang niat yang ikhlas adalah hadits riwayat Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat, sungguh bagi seseorang (melakukan perbuatan) menurut niatnya. Barangsiapa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia ia akan memperolehnya atau kepada perempuan yang nikahi, maka hijrahnya adalah kepada yang ia niatkan" (HR. Bukhari – Muslim).
Menurut para ahli hikmah, ikhlas termasuk salah satu bagian dari maqam yang perlu dilalui seorang sufi untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ada pula yang menyebutnya sebagai keadaan jiwa atau batin seseorang. Menurut Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi, maqam berbeda dengan hal. Maqam diperoleh melalui upaya manusia, sedangkan hal diperoleh sebagai anugerah dan rahmat Allah SWT. Hal bersifat sementara, datang dan pergi dalam perjalanan seorang sufi kepada Allah SWT.
Marilah kita menata hati, mengkonsentrasikan pikiran, memfokuskan pandangan pada kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini terjadi; banjir, tanah longsor, penyakit yang mewabah dimana-mana dan masih banyak lagi musibah silih berganti tiada henti. Sudahkah kita sadari bahwa ada sebuah kekuatan yang telah mengatur segala kejadian tersebut? Disadari atau tidak, jika Allah berkehendak, maka tiada seorangpun yang mampu lari daripada-Nya. Kata “ikhlas‟ berasal dari bahasa Arab “kha-la-sha” atau “akh-la-sha” yang berarti bersih, jernih, murni, selamat, bebas, jujur, tulus, dan tidak bercampur dengan sesuatu yang lain atau dalam makna yang lain berarti membersihkan sesuatu sehingga menjadi bersih. Fa’il (subjek)-nya disebut sebagai “mukhlis” yakni seseorang yang melakukan perbuatan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.
 Ditinjau dari al-Qur’an, kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai secara langsung penggunaannya, akan tetapi kita dapat menjumpai kata-kata yang bersinonim dengan kata ikhlas tersebut dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam, antara lain, khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali.  Selanjutnya kata khaalishah sebanyak lima kali, mukhlish (tunggal) disebutkan sebanyak tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali.
Selanjutnya, dari segi bahasa masing-masing kata tersebut diatas juga mengandung yang beragam pengertian, pertama, “Khaalish” atau “Khaalishan”, yaitu bersih dan tidak dicampuri noda apapun. Seperti dalam firman Allah, “Ingatlah, hanya kepunyaaan Allah-lah agama yang bersih.” (QS. Az-Zumar [39]: 3). Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An-Nahl [16]: 66).
 Kedua, “Khalashuu”, yaitu memproteksi diri, sebagaimana dalam firman Allah, “Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik.” (QS. Yûsuf [12]: 80).
Ketiga, “Khaalishah”, yaitu khusus untukmu, sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shâd [38]: 46). Kata “Khalishah” juga disebutkan dalam  surat al-Baqarah ayat 94, surat al-An’am ayat 139 dan Surat Al-A’raaf ayat 32.
Keempat, Mukhlishan, yaitu orang yang ikhlas memperjuangkan agamanya hanya untuk Allah semata, dan tidak ada cela sedikit pun. Kadangkala kata mukhlishan dipadukan dengan kata mukhlishin atau mukhlisun. Seperti dalam firman Allah, “Katakanlah, ‘Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.’” (QS. Az-Zumar [39]: 14); dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.’” (QS. Az-Zumar [39]: 11). Disamping itu, kata muklishan atau mukhlisin atau mukhlasan juga terdapat dalam surat al-Zumar ayat 2, surat al-Baqarah ayat 139, surat al-A’raf ayat 29, surat Yunus ayat 22, surat al-Ankabut ayat 65, surat Luqmaan ayat 32, surat Ghaafir ayat 14,65, surat an-Nisaa ayat 146, dan surat al-Bayyinah ayat 5.
Kelima, Mukhlashan, kadangkala kata ini dipadukan dengan kata mukhalashin yang bermakna dipilih, sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya dia adalah orang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam [19]: 51). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih” (QS. Yusuf [12]: 24). Masih dalam makna yang sama akan tetapi dalam bentuk aktif “Astakhlish”  yang berarti aku memilih”, seperti dalam firman Allah, “Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar Aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". (QS. Yusuf [12]: 54). Kata ini juga terdapat dalam surat al-Hijr ayat 40, surat al-Shaffat ayat 40,74,128,166,169, dan surat Shaad ayat 83.
Ikhlas adalah bahasa hati, yang mendengar hanyalah diri sendiri dan Allah sebab tujuan utamanya adalah ridha Allah. Maka marilah kita berusaha ikhlas dalam setiap amal dan perbuatan kita. Si kaya yang banyak harta, ataupun si miskin papa yang hidup dirundung derita.
Marilah kita nasihati diri ini agar tidak mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas segala musibah yang selama ini terus menimpa. Semua yang ada dimuka bumi ini adalah saling berkaitan dan saling menguatkan.
Jagalah diri untuk tidak merasa bahwa diri kitalah paling benar, meski selama ini orang telah menganggap diri kita yang benar; jagalah hati bahwa diri kita yang paling banyak mendapat cobaan, meski selama ini hidup di tengah penderitaan; jagalah lisan agar tidak bericara bahwa diri kitalah yang paling berjasa memberikan pertolongan kepada setiap orang yang sedang tertimpa bencana, meski harta, jiwa dan tenaga telah kita curahkan untuk membantu sesama. Wallahu a’lam bishshawab.
 
Support : Website Islam | # | AL-Hayah
Copyright © 2013. Alhayahvoice - All Rights Reserved
Created by Al Hayah Voice Published by AL-Hayah
Proudly powered by Hermal sb